Cemaranews.com—Jakarta, 22 April 2026, Di tengah dinamika politik pasca Pemilu 2024, sebuah narasi terus bergulir dari Solo. Ia tidak lahir dari gemuruh panggung besar atau hiruk-pikuk arena kekuasaan, melainkan tumbuh dari ruang-ruang diskusi sederhana, dari percakapan yang berlangsung rutin, serta dari kegelisahan yang dirawat dalam diam. Dari ruang-ruang inilah, seruan “Adili Jokowi” dirumuskan, bukan sekadar sebagai tuntutan politik, tetapi sebagai upaya membaca ulang arah perjalanan bangsa.
Salah satu sosok yang konsisten menyuarakan narasi ini adalah Usman Amiruddin. Dalam wawancara yang dilakukan secara daring dari kediamannya di Solo, ia menegaskan bahwa perjuangan tersebut belum berhenti. “Masih… masih,” ujarnya singkat, menandakan bahwa gerakan itu, setidaknya bagi dirinya, belum menemukan titik akhir.
Bagi Usman, perubahan tuntutan dari “mundurkan” menjadi “adili” bukan sekadar pergantian slogan, melainkan konsekuensi dari perubahan konteks politik nasional. Ia menjelaskan bahwa sebelum pergantian kepemimpinan, desakan lebih berfokus pada upaya pemberhentian presiden. Namun, setelah masa jabatan berakhir, tuntutan itu bergeser menjadi dorongan untuk proses hukum. Di Solo, ia mengingat satu momentum penting pada 6 November 2024 sebuah aksi yang disebutnya sebagai salah satu puncak konsolidasi gerakan di tingkat lokal.
Namun, lebih dari sekadar aksi, yang mencolok adalah cara narasi itu dibangun. Usman memandang persoalan bangsa tidak dapat disederhanakan pada satu figur semata. Dalam pandangannya, berbagai persoalan dalam tata kelola negara melibatkan relasi kekuasaan yang lebih luas. Cara pandang inilah yang kemudian menjadi fondasi pesan yang ia sampaikan: bahwa masyarakat perlu melihat persoalan secara lebih dalam, melampaui permukaan.
Narasi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan dirawat melalui forum-forum diskusi. Salah satunya adalah sarasehan politik yang digelar rutin setiap dua minggu. Forum ini menjadi ruang terbuka bagi berbagai kalangan untuk menyampaikan pandangan, mulai dari masyarakat umum hingga individu dengan latar belakang yang beragam. Perbedaan pandangan tidak dihindari, melainkan dianggap sebagai bagian penting dari dinamika diskusi. Bagi Usman, mendengar aspirasi publik merupakan langkah awal sebelum merumuskan gagasan.
Dalam menyusun pesan, ia menekankan pentingnya penggunaan fakta dan logika. Ia menghindari penyampaian berbasis asumsi atau spekulasi yang berpotensi menimbulkan bias. Bahasa yang digunakan pun dibuat sederhana agar dapat dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat. Pendekatan ini, menurutnya, menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik di tengah derasnya arus informasi yang tidak selalu terverifikasi.
Di lapangan, dinamika gerakan tidak selalu berjalan mulus. Usman mengakui adanya provokasi dari sebagian pihak yang mendorong tindakan ekstrem. Namun, ia menegaskan bahwa arah gerakan harus tetap terkendali dan tidak terjebak pada emosi sesaat. Dalam pandangannya, peran pemimpin adalah mengelola energi kolektif agar tetap berada dalam koridor yang konstruktif.
Menariknya, gerakan ini berjalan tanpa dukungan finansial besar. Kegiatan dilakukan secara swadaya, dengan partisipasi yang lahir dari kesadaran individu. Dalam beberapa aksi, dukungan bahkan datang secara spontan dari masyarakat sekitar. Bagi Usman, pengalaman tersebut menjadi bagian dari “romantika pergerakan” yang memperkuat ikatan antar peserta.
Meski demikian, ia tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi. Ia mengakui bahwa partisipasi dalam gerakan cenderung mengalami penurunan seiring waktu. Salah satu penyebabnya adalah ketidakefektifan dalam mengelola energi kolektif, di mana upaya besar tidak selalu menghasilkan dampak yang sepadan.
Di tengah berbagai dinamika tersebut, Usman menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan tidak diarahkan pada individu semata, melainkan pada kebijakan dan arah yang diambil. Ia percaya bahwa setiap kritik perlu disertai solusi agar tidak berhenti sebagai wacana.
Pada akhirnya, narasi yang berkembang dari Solo ini menunjukkan bahwa gerakan sosial tidak hanya dibentuk oleh aksi di ruang publik, tetapi juga oleh proses panjang dalam merumuskan makna. Dari ruang-ruang diskusi kecil, di tengah perbedaan pandangan, dan melalui upaya menyederhanakan isu yang kompleks, sebuah pesan terus dirajut tentang bagaimana sebagian masyarakat mencoba memahami, mempertanyakan, dan menafsirkan kembali arah bangsa yang mereka jalani.
