Rob di Bandengan Masih Terjadi, Warga Sebut Kondisi Kini Lebih Terkendali

Pekalongan, Cemaranews — Banjir rob masih menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat di Kelurahan Bandengan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Meski demikian, kondisi genangan saat ini dinilai sudah lebih terkendali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya berkat sejumlah upaya penanganan yang dilakukan pemerintah.

Gambar diatas menunjukkan tempat yang dulunya sawah berubah menjadi lautan air, dikarenakan penurunan tanah ekstrem yang menyebabkan banjir rob

Informasi tersebut diperoleh pada Selasa, 10 Maret 2026, saat pemantauan di Kelurahan Bandengan, Kota Pekalongan. Sejumlah ketua RT setempat menyampaikan bahwa rob dari laut masih kerap terjadi, terutama ketika curah hujan tinggi, sehingga menyebabkan kawasan permukiman kembali tergenang.

Ketua RT 04 Bandengan, Rizal, mengatakan banjir rob hingga kini masih terjadi di wilayahnya. Namun, menurut dia, sejak 2025 sampai sekarang, tingkat keparahan rob sudah berkurang jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun-tahun sebelumnya.

Ia menilai berbagai bantuan yang diberikan pemerintah telah membantu mengurangi dampak genangan di lingkungan masyarakat. Bantuan tersebut antara lain berupa peninggian jalan, dukungan pengembangan tambak udang dan ikan, serta pembangunan tanggul besar di kawasan pesisir.

Sementara itu, Ketua RT 05 Bandengan, Daningsih, menjelaskan bahwa banjir rob di wilayah tersebut telah berlangsung sejak sekitar 2010. Pada masa awal kejadian, kata dia, kondisi banjir jauh lebih parah, dengan ketinggian air pernah mencapai dada orang dewasa dan membutuhkan waktu lama untuk surut.

Menurutnya, intensitas banjir saat ini mulai menurun setelah adanya sejumlah intervensi pemerintah, seperti peninggian jalan, pembangunan tanggul besar, dan penyediaan alat penyedot air banjir.

Meski kondisi rob dinilai membaik, ancaman genangan besar tetap membayangi masyarakat. Daningsih menuturkan, apabila air kembali naik hingga mencapai ketinggian dada orang dewasa, sebagian warga biasanya mengungsi ke Kantor Kelurahan Bandengan. Sebagian lainnya memilih mengungsi ke luar wilayah desa.

Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, banjir rob juga berdampak pada kesehatan warga. Saat musim hujan dan genangan air tidak segera surut, warga disebut kerap mengalami diare, kutu air, dan berbagai penyakit kulit lainnya.

Daningsih menambahkan, salah satu faktor yang memperparah kerentanan wilayah Bandengan terhadap banjir rob adalah penurunan permukaan tanah. Ia memperkirakan laju penurunan tanah di kawasan tersebut mencapai sekitar 6 hingga 8 sentimeter per tahun, sehingga permukaan wilayah menjadi semakin rendah dibandingkan tanggul penahan air laut.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun penanganan banjir rob di Kelurahan Bandengan telah menunjukkan hasil yang cukup positif, ancaman genangan masih menjadi persoalan jangka panjang yang memerlukan perhatian berkelanjutan. Upaya mitigasi dan penguatan infrastruktur pesisir dinilai tetap penting untuk melindungi permukiman warga dari dampak rob di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *